Senin, 14 September 2015

Always On


Always On

Ini adalah cerita ku , semua berawal dari tempat kecil yang menyimpan kebahagiaan dan kesedihan yaitu keluarga. Engsel pintu yang berdecit karena belum diberi oli sebagai pelumas, layaknya anak yang mengoceh saat tidak diberi kasih sayang oleh orang tuanya. Embun pagi hari yang murni telah menetes dari daun kehidupan menuju lembah curam bagai tanah pijakan yang dinamakan dunia. Sinar matahari menerpa, menjadi penerang sang anak untuk selalu berpijak di lembah curam tersebut berdasarkan pemikiran yang berupa logika. penyesuaian sangat diperlukan karena hidup ini tidaklah lurus.

***

Minggu, 26 agustus 2009 tepatnya pukul 08:00 pagi, terjadi perseteruan antara orang tuaku, aku belum tahu apa masalah yabg sedang mereka hadapi. aku hanya bisa terdiam dan termenung memandangi tembok berwarna hijau yang lama kelamaan menjadi hitam karena ada noda yang menempel. segala sesuatu tentang itu telah merubah hidupku, malas untuk mengukir sejarah di negeri penuh penderitaan ini, pernah sekali kubertanya pada lantai " hai lantai apakah engkau rela terus menerus diinjak-injak? , pernahkau berpikir mencoba lari daru kenyataan tersebut?". hari demi hari kulewati banyak teman teman yang telah menjadi tempat pelampiasan amarahku. tumbuhnya amarah ini mengakibatk an aku dijauhi oleh teman temanku.

Tangan gemetar, sesak nafas, susah bergerak, itu semua telah menjadi teman akrabku, tapi setidaknya Dia masih memberiku waktu untuk berbuat baik walu hanya senyum palsu dari kesedihanku.  Saat bulan muncul bersama bintang, saat itulah aku bisa berpikir jernih tentang dunia yang fana ini, berpikir bagaimana semua ini bisa terjadi padaku.kubertabya pada dinginnya malam "apakah karena kaki ini pernanh melangkah untuk kejahatan?atau tangan ini yang pernah berlaku kasar kepada orang lain atau bahkan mulut ini pernah menancapkan paku ke hati saudaraku, apa salahku ? " . Setelah kian lama aku hidup dalam ketiakadilan dunia yang hanya drama ini. "mungkin di sebrang san ada yang lebih burk keadaanya daripada aku" pikirku. aku mulai berpikir ulang untuk bangkit dan mulai memperbaiki diri dari ujung rambut sampai ujung kaki yang pernanh melakukan kesalahan kepada saudara-saudara seimanku. kisah kebangkitan tidaklah seperti sinetron yang langsung berubah 180 derajat tanpa adanya usaha yang lebih. perlu sebuah proses yang sangat panjang untuk melninggalkan pengalaman kelam tersebut. Usaha pertamaku adalah dengan menekuni sholat lma waktu dengan tepat waktu, kemudian beranjak ke belajar membaca Al-Qur'an dan memahaminya , setelah itu mengamalkan sunah sunah rasulullah dan menjalankan kewajiban umat muslim lainnya. aku juga sangat suka membaca bioagrafi orang orang hebat dimasanya dan aku teringat salah seorang ulama yaitu masruq bin ajda' yang mencari ilmu sebera jauhpun mata memandang. dan juga ketabahan urwah bin az-zubair yang memotivasiku untuk berubah menjdi hamba-Nya yang lebih bersabar. bersabar bersabar dan trus bersabar . ketika gelap yang menjadi penrrangan hanyalah lampu, mungkin itu adalah pemikiran orang awam tetapi saat kita mendapat masalah dan duniapun menjadi gelap maka disitulah akan muncul hidayah yang tidak kita sangka sangka maka dari itu penerangan hidup ini hanya lah dai ALLAH yang maha kekal. gelap dalam hidupku sedikit demi sedikit mulai sirna , muncul harapan baru dan kekuatan baru.

Selang 5 bulan akhirnya muncul titik terang dalam kegelapan yang sangat gelap, orang tuaku iba melihat anakknya yabg tersiksa dengan kelakuan yang berbanding yerbalik dengan ajaran islam. mereka mencoba untuk menjalin kebahagian lagi tentunya bersamaku .aku tahu  ALLAH  akan menjawab doaku, tanda bahwa Dia sayang kita adalah saat kita diberi ujian atau cobaan dan krmudian apa yang akan kita lakukann adalah terus mengigat-Nya, InsyaALLAH kita termasuk orang yabg dicintai oleh ALLAH .

Mungkin dari masalah yang kuhadapi kemarin dapat menjadi himpunan atau tumpukan evaluasi untuk aku dan keturunanku kelak.